2017, Kredit Properti Bakal Tumbuh 12%

by

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual memperkirakan, kredit properti berpeluang tumbuh 12% atau lebih pada 2017. Pertumbuhan dua digit tersebut dapat tercapai antara lain jika pertumbuhan ekonomi Indonesia positif, dan nilai tukar rupiah stabil.

Selain itu, adanya realisasi paket kebijakan ekonomi khususnya mengenai relaksasi penurunan Pajak Penghasilan (PPh) final untuk sektor properti dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB).

“Tiga faktor tersebut memang berpengaruh besar pada pertumbuhan kredit properti. Sebagai contoh, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan mempengaruhi daya beli masyarakat terutama yang membeli rumah pertama. Mereka ini adalah pembeli riil. Di sisi lain, pemerintah dan otoritas keuangan cukup banyak memberikan insentif di sektor ini, sehingga mestinya tahun depan bisa tumbuh lebih baik,” ujarnya.

David menjelaskan, sampai saat ini dan akhir tahun 2016 pertumbuhan kredit properti masih lesu seiring belum pulihnya kredit perbankan secara keseluruhan. Meski demikian, dia menilai ada sedikit rebound pada periode Oktober 2016 dengan pertumbuhan kredit 7,4% secara year on year (yoy). Sementara itu, pertumbuhan kredit properti sampai akhir tahun ini kemungkinan di kisaran 6-7%.

Dia juga menjelaskan, tantangan dalam penyaluran kredit properti saat ini adalah strategi bank untuk mengurangi tingkat kredit bermasalah. Menurut dia, rata-rata kredit macet di bank untuk rumah toko (ruko) saat ini sekitar 4-5%, karena tingginya harga beli dan melemahnya daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, bank berhati-hati menyalurkan kredit untuk ruko. Kredit pemilikan rumah/apartemen untuk hunian menengah atas juga cenderung lesu karena harganya tinggi. Sementara itu, KPR/KPA menengah bawah masih tumbuh positif walaupun tidak tinggi. “Kredit untuk office dan hotel juga sepertinya sudah over supply, sehingga bank cenderung menghindari segmen ini,” kata David.

Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2016 sebesar 7,4% secara year on year (yoy) dengan outstanding mencapai Rp 4.246,6 triliun, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,4% (yoy).

Pertumbuhan kredit pada Oktober tersebut ditopang oleh kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI) yang masing-masing tumbuh 5,9% (yoy) dan 10,1% (yoy). Realisasi tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing tumbuh 4,1% (yoy) dan 9,3% (yoy).
Di sisi lain, penyaluran kredit pada segmen properti pada Oktober 2016 tumbuh 12,7% (yoy) dengan penyaluran kredit mencapai Rp 690,2 triliun, melambat dibandingkan bulan lalu 12,8% (yoy). Perlambatan terutama terjadi pada kredit real estate dari 20,9% (yoy) pada September 2016 sebelumnya menjadi 19,4% (yoy) dengan penyaluran kredit sebesar Rp 123,2 triliun.
BI juga mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA) serta kredit konstruksi meningkat, dari 6,8% (yoy) dan 19,7% (yoy) pada September 2016 menjadi 6,9% (yoy) dan 20,2% (yoy). Penyaluran KPR/KPA pada Oktober 2016 tercatat sebesar Rp 358,5 triliun, sedangkan kredit konstruksi mencapai Rp 208,5 triliun.

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *