2018, BI Siap Kembangkan Keuangan Syariah

by

Bank Indonesia (BI) akan memperkokoh implementasi blueprint ekonomi dan keuangan syariah di tahun ini guna mendorong pengembangan keuangan syariah di 2018. Setidaknya ada tiga pilar strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di tahun depan.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan strategi pertama dengan mendorong penerbitan instrumen keuangan syariah berbasis wakaf, penerbitan instrumen sukuk berbasis wakaf, pembiayaan berbasis Islamic Social Finance, dan penerbitan instrumen likuiditas Bank Indonesia yang berbasis syariah.

“Seperti yang sudah kami singgung sebelum ini, pendalaman pasar keuangan syariah dan penguatan keuangan syariah untuk pembangunan akan ditempuh,” ujar Agus, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2017, di Senayan JCC, Jakarta, Selasa malam 28 November 2017.

BI juga akan melanjutkan program pengembangan halal supply chain melalui penguatan dan implementasi model bisnis pemberdayaan ekonomi syariah. Kemudian mendukung pendirian kawasan ekonomi syariah, penguatan kelembagaan, dan infrastruktur pendukung termasuk pendirian World Islamic Investment Bank dan Islamic Inclusive Financial Service Board.

Ketiga, memperkuat riset, asesmen, dan edukasi untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah melalui akselerasi aktivasi sistem informasi zakat dan wakaf yang tengah dibangun bersama Kementerian Agama, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan memperkuat dukungan penyusunan kurikulum ekonomi serta keuangan syariah untuk berbagai jenjang tingkat pendidikan.

“Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65 persen per tahun dalam lima tahun terakhir maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan,” tutur dia.

Adapun pertumbuhan ekonomi di 2018 diyakini berada di kisaran 5,1-5,5 persen dengan inflasi berada di kisaran sasaran 3,5+1 persen. Pertumbuhan dana pihak ketiga dan kredit perbankan 2018 masing-masing diperkirakan 9-11 persen dan 10-12 persen. Defisit transaksi berjalan, meski diperkirakan sedikit meningkat, namun tetap di bawah tiga persen dari PDB.

Pada periode 2019-2022, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat hingga mencapai kisaran 5,8-6,2 persen pada 2022, dengan inflasi sebesar 3+1 persen dan defisit transaksi berjalan yang menurun dan tetap di bawah tiga persen dari PDB. []

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *