Harga Komoditas jadi Penyelamat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I

by

Lesunya pertumbuhan ekonomi dunia akhir tahun lalu masih membayangi kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I 2017 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (6/5).

Sepanjang awal tahun, beberapa indikator ekonomi makro diproyeksi tidak menunjukkan performa yang cukup baik. Hal ini ditandai dengan prediksi konsumsi rumah tangga yang yang hanya tumbuh 4,98 persen (yoy) atau cenderung melambat dari kuartal sebelumnya. Konsumsi yang melambat itu terindikasi oleh perlambatan penjualan ritel, serta penjualan mobil dan motor.

Dari segi investasi, PMTB diperkirakan tumbuh sekitar 5,0 persen yoy seiring dengan perbaikan investasi non-bangunan terindikasi oleh kenaikan penjualan alat berat dipengaruhi oleh kenaikan aktivitas di sektor perkebunan dan pertambangan.

Sementara, investasi bangunan cenderung masih melambat terindikasi oleh konsumsi semen yang melambat 14,6 persen dari kuartal sebelumnya. Kemudian dari sisi intermediasi perbankan, Bank Indonesia (BI) dalam hasil Survei Perbankan mensinyalir pertumbuhan kredit pada kuartal I 2017 masih melambat. Ini sesuai dengan pola historis awal tahun. Kendati demikian, bank sentral memprediksikan pertumbuhan kredit akan kembali meningkat pada kuartal selanjutnya.

Namun, faktor kenaikan harga komoditas di pasar dunia menjadi sentimen positif bagi aktivitas ekspor impor Indonesia. Laju pertumbuhan ekonomi domestik selama tiga bulan awal tahun ini diprediksi lebih kencang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2017 mencapai angka 5,1 persen atau lebih tinggi dari kuartal sebelumnya, yaitu kuartal IV 2016 yang sebesar 4,94 persen.

Optimisme Darmin didorong oleh tren membaiknya harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia, terutama yang bersumber dari komoditas Sumber Daya Alam (SDA), seperti karet, kelapa sawit, perkebunan. Kenaikan harga tersebut memberi sentimen positif bagi penghasilan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah penghasil komoditas, seperti Sumatra dan Kalimantan.

“Pertumbuhannya tidak terlalu ambisius, tetapi ya termasuk tinggi-lah. Mungkin, kami lebih optimistis dari proyeksi yang ada. Untuk pertumbuhan ekonomi kuartal I yang akan diumumkan beberapa hari lagi, BI memprediksi 4,99 persen. Kalau saya, mendekati 5,1 persen,” tutur dia, pekan lalu.

Menurut Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede, kenaikan harga komoditas memengaruhi kenaikan volume ekspor kuartal I 2017 yang diperkirakan tumbuh 4,5 persen (yoy) dari 4,24 persen pada kuartal IV tahun lalu. Perbaikan kinerja ekspor tersebut membantu laju perekonomian di tengah belanja pemerintah yang diperkirakan tumbuh terbatas sekitar 1,1 persen (yoy) dari -4,05 persen pada akhir tahun lalu akibat pola musiman belanja pemerintah yang relatif terbatas di awal tahun.

“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2017 diperkirakan mencapai 4,97 persen (yoy), meningkat dari kuartal sebelumnya sebesar 4,94 persen (yoy),” kata Josua.

Sementara itu, Ekonom Standard Chartered Bank Aldian Taloputra mengatakan, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar serentak pada 15 Februari lalu tidak memberikan dampak signifikan terhadap konsumsi swasta dan pemerintah.

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *