Hendrisman Rahim Mengombinasikan Investasi Berisiko Tinggi dan Rendah

by
Hendrisman Rahim

Meski tak muda, ia cukup berani berinvestasi di saham. Namun itu ia imbangi dengan instrumen investasi berisiko rendah. Bagaimana triknya mengoptimalkan perolehan return? Kendati berusia 61 tahun, Hendrisman tak gentar menyelami instrumeninvestasi berisiko tinggi. Pada 2010, Hendrisman memulai petualangan di pasar sahamseiring bertambahnya wawasan di pasar modal. Dirut PT Asuransi Jiwasraya (Persero) in mengoleksi saham unggulan di sektor perbankan, barang konsumsi dan aneka industri. Ia membidik imbal hasil dalam jangka menengah panjang. “Karena, saya investor yang agak konservatif,” kata kelahiran Palembang 18 Oktober 1955 ini, sesekali ia membeli saham di pasar perdana.

Hendrisman menyadari pilihannya berinvestasi di pasar saham agak terlambat jika mempertimbangkan umurnya yang telah memasuki usia pensiun. Sebelumnya investasinya lebih banyak di produk pendapatan tetap atau yang resikonya rendah.

“Saya menempatkan uang di deposito” katanya. Deposito menjadi ajang investasinya sejak awak 1980-an. Aset deposito untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dan panjang seperti membiayai pendidikan anak.

Seiring dengan meningkatnya penghasilan sebagai tenaga profesional di industri asuransi yang karirnya dirintis pada 1984, hendrisman menyimpan asetnya di asuransi unit link, lahan dan logam mulia. Ia menyisihkan penghasilannya membeli lahan di lokasi strategis sebagai instrumen investasi jangka panjang. Sementara emas dipilih sebagai produk investasi yang relatif aman karena harganya akan naik berlipat-lipat di masa yang akan datang. Adapun unit link tidak asing baginya. Ia sangat mafhum dengan karakter investasi di asuransi terproteksi ini.

Pola investasi itu menurut Hendrisman merupakan proses pembentukan karakternya selaku investor. Ia bercerita, investasinya dilakukan bertahap disesuaikan dengan pengetahuan instrumen investasi dan besaran gajinya. Ia memulainya dengan produk imbal hasil tetap dan tidak terlalu dipengaruhi resiko pasar. “Ketika itu saya mengalokasikan aset di deposito yang porsinya 50-60%, komposisi aset lainnya terbagi rata di asuransi unit link, lahan dan logam mulia.

Komposisi Portofolio nya berubah perlahan ketika ia berjibaku di pasar saham.“Saya mencicil 1-2 saham sekaligus mempelajari karakter investasi pasar saham,” jelasnya.

Portofolio saham dikelola jangka panjang. Ia rutin meninjau performa sahamnya setahun sekali. Ia tidak loyal terhadap saham tertentu, juga tak segan melepas saham jika performanya anjlok, sebaliknya Ia mempertahankan saham yang kinerkjanya cemerlang.

Itu merupakan prinsip yang dipegang Hendrisman. Prinsip berikutnya : tidak mencoba-coba membeli saham yang informasi pendukungnya minim. Alasannya agar terhindar dari kerugian.

Tingkat imbal hasil yang diperoleh itu merupakan kombinasi dari insting, upaya menghimpun infrmasi dari koleganya yang berkutat di pasar modal atau industri tertentu srta analisis fundamental dan teknis. Ia mengklaim cakrawala pengetahuan pasar saham lebih terbuka luas. Ini memberi acuan atau rekomendasi saham yang ditransaksikan.

“Ngobrol bersama teman-teman, lihat kanan, lihat kiri, setelah itu  mengambil keputusan berdasarkan logika” ujarnya. Hal ini menambah rasa percaya diri untuk investasi di saham.

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *