Jiwasraya Incar Premi Rp16.8 Triliun

by

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menargetkan dapat meraup premi Rp 16,8 triliun pada 2017. Hendrisman Rahim, Direktur Utama Jiwasraya, mengatakan target ini naik 45% dari rencana kerja 2016. Menurutnya, pada tahun ini perusahaan ditargetkan mampu meraup premi Rp 11,6 triliun. “Sedangkan profit kami targetkan di atas Rp 1 triliun,” kata Hendrisman.
Adapun hingga triwulan III/2016, dia mengatakan Jiwasraya telah membukukan premi 15,2 triliun. Realisasi itu naik lebih dari 100% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya tercatat Rp 7 triliun. Hendrisman mengharapkan Jiwasraya dapat membukukan premi hingga akhir tahun Rp 16 triliun.
Sementara itu, untuk hasil investasi triwulan III/2016, Hendrisman mengatakan perusahaan hampir merealisasikan target setahun. Dari target hasil investasi Rp 1,2 triliun, Jiwasraya telah merealisasikan pendapatan Rp 1,19 triliun.
Lebih lanjut, Hendrisman menuturkan Jiwasraya juga telah membeli surat berharga negara (SBN). Namun, terbatasnya persediaan membuat pihaknya belum dapat memenuhi kewajiban yang ditetapkan otoritas. Dari target 20%, pihaknya baru mencapai 10%-13%.
Hendrisman mengatakan aturan SBN dapat disamakan dengan obligasi infrastruktur yang diterbitkan oleh badan usaha milik negara dapat segera terealisasi. Tanpa dukungan perubahan aturan ini, Hendrisman meragukan industri dapat merealisasikan target yang diminta otoritas. “Tampaknya industri ini [asuransi jiwa] meminta relaksasi, tahun ini jangan 20% dulu,” katanya.
Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, mengatakan secara total, anggota asosiasi masih belum memenuhi aturan kepemilikan SBN. Secara rata-rata kepemilikan SBN di asuransi jiwa baru 16%. “Sebanyak 16% itu total, dengan reksadana underlying aset SBN,” katanya.
Sementara itu, porsi investasi asuransi jiwa ke instrumen pasar modal diproyeksikan terus meningkat sepanjang 2017 demi meraih imbal hasil yang signifikan. Christine Setyabudhi, Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life), sebelumnya mengatakan pengelolaan portofolio investasi asuransi jiwa akan menyesuaikan dengan produk yang dimilikinya. Saat ini, produk asuransi berbasis investasi atau unit-linked masih mendominasi industri asuransi jiwa.
Karakteristik mayoritas nasabah yang membeli produk tersebut dinilai masih agresif. Karena itu, dia menilai potensi peningkatan alokasi investasi ke instrumen pasar modal masih terbuka hingga tahun depan. “Tren saat ini unit-linked masih agresif. Tren investasi di equity masih akan menjadi pilihan utama,” tutup Christine.

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *