Kinerja Terus Meningkat Selama 121 Tahun

by

Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau Bank BRI terus meningkat selama 121 tahun berdiri. Ini tercermin dari jumlah aset hingga laba bersih yang mengalami pertumbuhan signifikan setiap tahun. Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam mengatakan, jumlah aset perusahaan per kuartal III/2016 sudah mencapai Rp894 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak Rp653 triliun berasal dari Dana Pihak Ketiga (DPK). “Di usianya yang ke-121 tahun ini, di posisi bulan ke-9 pada September kemarin, BRI sudah membukukan aset Rp894 triliun. Aset itu dibentuk oleh dana masyarakat yang dikelola BRI Rp653 triliun,” pungkas Asmawi.
Jumlah DPK tersebut, lanjut Asmawi, disalurkan dalam bentuk kredit sebesar Rp603 triliun dengan kualitas yang sangat baik. Tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di tengah industri yang tinggi, BRI bisa menjaga kualitas NPL di angka 2,2%.
Atas perolehan ini, imbuh Asmawi, perusahaan berhasil mencatatkan perolehan laba bersih Rp18,2 triliun hingga kuartal III/2016. Kinerja cemerlang tersebut membuat Bank BRI siap menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. “Alhamdulillah dengan balance sheet seperti itu, BRI membukukan laba selama 9 bulan Rp18,2 triliun dan makin siap karena kita sudah mengoperasikan satelit sendiri. Kemudian didukung jaringan elektronik yang sangat siap menjangkau seluruh Tanah Air,” tandasnya.
Sebagaimana telah diketahui bahwa BRI saat ini memiliki jaringan bisnis yang begitu luas tersebar ke seluruh penjuru negeri hingga mancanegara. “Kami telah memiliki 10.637 outlet dan ditunjang 23.807 jaringan automatic Teller machine (ATM), serta lebih dari 223 ribu mesin Electronic Data Capture (EDC),” jelas Asmawi Syam.

Inovasi Digital Hadapi Ekonomi Global
BRI terus melakukan inovasi digital dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Inovasi ini dilakukan dari waktu ke waktu sejak 1980-an. Menurut Asmawi Syam, dulu perusahaan masih menggunakan kertas dalam mencatat setiap laporan. Mulai 1987, inovasi digital dilakukan dengan sistem komputerisasi. “Kantor cabang laporan tulis manual semuanya. Tahun 1987 mulai pasang komputer di Indonesia Timur karena laporan ini penting untuk ke Bank Indonesia. Tahun 1990 client server data based lahir, teknologi yang tumbuh kami ikuti,” terang Asmawi.
Setelah itu, lanjutnya, perkembangan teknologi terus dilakukan. Salah satunya yakni membuat transaksi antar cabang dengan menggunakan sistem online agar mempermudah nasabah. “Dulu bawa cek perjalanan ke suatu tempat tapi seiring waktu berjalan mulai hilang. Transaksi antar bank kita buat bisa dengan perlihatkan buku tabungan, teknologi transaksi antar cabang bisa online,” tutur Asmawi.
Permintaan terhadap digitalisasi yang tinggi, terus terjadi hingga memasuki era millenium. Banyak nasabah membutuhkan akses perbankan secara mudah dan cepat. “Kebutuhan teknologi diakomodasi terus. Tahun 2000 setiapbuka kantor baru di desa, tengah hutan perkebunan karet sawit kita buat real time online. Hingga akhir ini muncul fintech, nah ini kita dekati perlu sinergi dengan mereka,” pungkasnya.

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *