Perlu Kredit Bank ? Baca ini !

by


Kredit Bank akan tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi yang baik dan penuh kepastian. Terlebih pada tahun 2018 Indonesia akan memasuki tahun politik dimana pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) akan dimulai. Artinya akan banyak sekali kegiatan ekonomi yang dilakukan. Sehingga hal tersebut tentunya sedikit banyak akan memberikan pengaruh yang baik atas kinerja bank.

Tahun 2018 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi seluruh pelaku industri dan bisnis di tanah air. Tahun depan akan menjadi tahun pemulihan ekonomi global dimana tidak sedikit pelaku industri yang kinerjanya terganggu akibat pengaruh ekonomi yang melambat. Tidak terkecuali sektor perbankan, ekonomi yang melambat tidak dipungkiri memberikan pengaruh cukup besar terhadap kinerja sektor perbankan terutama dalam kinerja kredit.

Selain itu, berbekal pengalaman dan strateginya, perbankan tentunya telah memiliki jurus jitu untuk meningkatkan penyerapan kreditnya sehingga sektor tersebut mampu memberikan kontribusi besar terhadap kinerja secara keseluruhan.

Investasi yang diproyeksikan tumbuh 7% di tahun 2018 seiring berbagai proyek infrastruktur pemerintah yang dilakukan secara masif, tentunya menjadi salah satu potensi bagi perbankan dalam penyaluran Kredit Bank. Maka secara keseluruhan tidak ada alasan bagi perbankan untuk tidak menatap optimis proyeksi bisnis perbankan di tahun anjing tanah tersebut.

BI: Kredit Bank 2018 Akan Tumbuh 10-12%

Bank Indonesia (BI) optimis akan pertumbuhan kredit di tahun 2018. Menurut Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, pertumbuhan Kredit Bank akan mencapai 10 hingga 12%.

Menurutnya pada tahun ini fungsi intermediasi perbankan dirasakan belum optimal. Sektor riil, imbuh Agus, masih belum pulih dikarenakan beberapa faktr salah satunya yaitu masalah struktural.

“BI akan mengeluarkan beberapa kebijakan strategis terkait makro prudensial agar pertumbuhan kredit di 2018 bisa optimal,” ujarnya.

Kebijakan tersebut antara lain yaitu dengan melakukan implementasi regulasi giro wajib minimun (GWM) rata rata secara bertahap dan terstruktur. Selain itu, lanjutnya, BI akan melakukan penyempurnaan pada aturan-aturan likuiditas dengan aturan fiancing to funding ratio.

“Penyempurnaan rasio loan to value (LtV) juga akan dilakukan. Maka dengan relaksasi tersebut kami berharap fungsi intermediasi perbankan di 2018 akan lebih optimal,” jelasnya.

Sementara itu menurut Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, pertumbuhan kredit 10-12% sangat sejalan dengan dampak pelonggaran moneter.

Proyeksi tersebut, lanjutnya, juga mencermikan perekonomian yang tumbuh serta persoalan kredit bermasalah yang diselesaikan perbankan. Maka seiring hal itu pertumbuhan DPK (dana Pihak Ketiga) di 2018 diproyeksikan bisa mencapa 9%-11%y-o-y.

BI mencatat sampai sampai dengan periode Oktober 2012 kredit industri perbankan berada pada level 8,16% y-o-y mengalami perbaikan dari periode sebelumnya yang berada pada level 7,86% y-o-y.

“Kami memproyeksikan pertumbuhan kredit berada pada level 8% y-o-y sampai akhir tahun 2017,” ujarnya.
Sementara itu, lanjutnya, pertumbuhan DPK sampai periode Oktober 2017 tercatat sebesar 11% atau mengalami perlambatan dari periode sebelumnya yaitu 11,7% y-o-y dan sampai akhir tahun DPK kami proyeksikan tumbuh 9%,” terangnya.

Pertumbuhan Kredit Bank dinilai masih lemah, dikarenakan permintaan kredit yang belum tinggi selain Bank yang sangat selektif dalam penyalurannya. Pada Oktober 2017 Non Performing Loan (NPL) gross atau rasio kredit bermasalah berada pada level 2,96% dengan NPL net sebesar 1,25%.

Kredit Bank Versi OJK

Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengatakan bahwa pihaknya memproyeksikan Kredit Bank pada 2018 akan tumbuh menyentuh angka 12%.

“Insya allah pertumbuhan kredit bisa tumbuh dua digit karena ekonomi akan membaik di berbagai negara dan tentunya akan ada pesta demokrasi Pilkada yang akan banyak aktivitas ekonominya,”ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa di tahun ini Non Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah dan pertumbuhan kredit akan terkoreksi di akhir tahun 2017. Sampai Oktober 2017, NPL sudah berada pada level dibawah 3%.

“Sudah membaik di bawah 3%. Jika pertumbuhan kredit sekitar 8% lebih maka itulah year on year (y-o-y) nya. Dengan pertumbuhan 8% pada periode Oktober maka saya optimis akhir tahun pertumbuhan kredit bisa mencapai 9%,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiana, mengatakan bahwa hampir keseluruhan sektor mendukung pertumbuhan kredit pada periode Oktober. Namun, lanjutnya, sektor infrastruktur menjadi sektor yang mendominasi dalam pertumbuhan kredit pada Oktober.

“Secara y-o-y pertumbuhan Kredit Bank sekitar 8,18%. Kredit infrastruktur yang paling dominan,” jelasnya.
Terkait pencapaian pertumbuhan kredit di akhir tahun 2017, Heru mengungkapkan bahwa ia optimis target-target dapat tercapai bahkan pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit.

“Saya optimis pencapaiannya dapat mendekati rencana bisnis yaitu sebesar 11,8%. Jika pada September saya pesimis, maka dengan pertumbuhan di Oktober dari 7% ke 8,18% membuat saya optimis akhir tahun Kredit Bank bisa dua digit,” ujarnya.

BCA Bidik Pertumbuhan Kredit Konservatif di 2018

Kondisi ekonomi yang tidak menentu pada tahun ini dan diproyeksikan berlanjut hingga tahun depan, membuat PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mematok pertumbuhan kredit konservatif di tahun 2018.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan dirinya mematok pertumbuhan Kredit Bank konservatif 9%-10%. Target tersebut, imbuh Jahja, dipatok sama dengan proyeksi realisasi kredit di tahun ini.

Saat ini, menurutnya, kredit konsumsi masih menjadi penopang BCA untuk kinerja keuangannya. Adapun kredit investasi dan permodalan terus mengalami penurunan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa perbankan konsisten akan mendorong penyaluran kredit, namun fokus utamanya menagamnkan dari sisi likuditas dan permodalan. Jika perekonomian kondusif untuk melakukan ekspansi maka BCA memiliki kekuatan untuk tancap gas.

“Yang penting kami sediakan likuditas serta permodalan. Kalau ekonomi bagus kamia akan tancap gas, sebaliknya kalau tidak memungkinkan tentu tidak akan dipaksakan,” terangnya.

2018 Bank Bukopin Hanya Targetkan Tumbuh 8%

Berbeda dengan proyeksi BI dan OJK, tahun 2018 Bank Bukopin membidik target pertumbuhan Kredit Bank berada pada angka tunggal dengan segmen mikro sebagai kontributor utama laba perbankan.

Menurut Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi, iklim bisnis yang datar menjadi alasan Bank Bukopin tidak mematok pertumbuhan kredit dua digit di tahun 2018. Lebih lanjut ia mengatakan perekonomian ke depan cenderung tidak banyak mengalami perubahan dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang masih berada pada kisaran 5,1-5,2%.

“Jika proyeksi OJK dan BI adalah 10-12% tetapi kami realistis tidak berani tumbuh lebih tinggi. Kami sangat hati-hati! Bank Bukopin menargetkan Kredit Bank akan tumbuh 8%,” terang Glen.

Glen menuturkan ketidakpastian akan ekonomi di tahun 2018 masih sangat tinggi. Seperti diketahui bahwa tahun 2018 sudah masuk tahun politik walaupun hajatan utamanya pada 2019. Dengan iklim politik dunia yang tidak menentu serta harga minyak yang belum pulih maka dirinya sangat hati-hati dalam membidik target bersama Bank Bukopin,” paparnya.

Seperti diketahui bahwa labanBank Bukopin dikontribusikan melalui kredit mikro dan ritel. Kredit mikro tumbuh sangat baik dan begitu pula kredit riter meskipun terkendala kualitas.

“Kami proyeksikan kredit mikro akan tumbuh sebesar 30%. Saat ini portofolio mikro sebesar Rp10-12 Triliun dari total kredit yaitu sebesar Rp70 Triliun,” ujarnya. []ct

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *