Meneropong Pertumbuhan Kredit Perbankan di 2018

by

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis, pertumbuhan kredit pada 2018 bisa tumbuh lebih kencang dari tahun ini. Pada tahun depan, regulator mikroprudensial perbankan ini memproyeksi kredit tumbuh 12% secara tahunan atau year on year (yoy). Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, pertumbuhan kredit tahun depan diproyeksi lebih baik dari tahun ini.

“Sektor Korporasi, infrastruktur, ritel, konsumer dan UMKM diproyeksi akan mendorong pertumbuhan kredit tahun depan. Untuk prospek segmen menengah pada tahun depan, masih menunggu harga komoditas pulih,” ujar Wimboh.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Krisriyana, sampai September 2017 pertumbuhan kredit perbankan masih lambat. Bank, imbuh Heru, masih dalam konsolidasi dan masih banyak melakukan pelunasan kredit.

Pertumbuhan kredit tahun ini yang rendah disebabkan karena debitur masih menahan ekspansi. Ini ditunjukkan dengan jumlah komitmen kredit yang belum ditarik masih cukup besar.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan, kredit perbankan tahun ini hanya 8%.

Sementara itu penurunan suku bunga nyatanya belum mampu menjadi obat kuat pertumbuhan permintaan kredit. Proyeksi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit perbankan hingga akhir tahun ini akan sulit mencapai dua digit. Bank sentral memprediksi kredit perbankan hanya tumbuh 8% di tahun ini. Torehan angka ini sedikit lebih baik dari pertumbuhan kredit tahun 2016 yang hanya sebesar 7,85%.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman, lebih rinci pada September 2017, kredit bank tumbuh 7,86% menjadi Rp 4.543 triliun. Lalu, pada Oktober 2017, BI menyebut, kredit tumbuh terbatas. “Kredit diperkirakan tumbuh di kisaran 8% di akhir tahun ini,” ujar Agusman.

Beberapa sektor yang mendorong pertumbuhan kredit bank tahun ini, antara lain sektor infrastruktur, konsumsi, manufaktur dan pertanian.

Setali tiga uang, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga memproyeksikan kredit perbankan akan tumbuh 8% di akhir tahun ini. Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan, ekonomi Indonesia yang kurang bertenaga berefek ke permintaan kredit bank di tahun ini.

Pelambatan pertumbuhan kredit dialami PT Bank Mandiri Tbk. Menurut Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas, bank dengan kode saham BMRI ini mencatat kredit tumbuh sekitar 7,7% atau menjadi Rp 675,6 triliun. Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan kredit 9,8% September 2017.

Meski satu digit, PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit lebih baik dari BMRI. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, BCA mencatat kredit tumbuh 9% per Oktober 2017, membaik dari pertumbuhan 8% di September 2017. “Permintaan kredit belum kuat lantaran industri juga sedang lesu,” ujar Jahja.

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Herry Sidharta mengaku, kredit BNI mampu tembus dua digit. Kredit korporasi dan BUMN mendominasi pertumbuhan yang tinggi. []

Hanya jika menelisik lebih detail, efek pelambatan ekonomi bukan satu-satunya alasan pelambatan kredit. Korporasi tampaknya lebih memilih menerbitkan obligasi sebagai sumber pendanaan ketimbang kredit bank.

Ini tecermin dari penerbitan obligasi korporasi yang membanjir di tahun ini. Hingga Oktober 2017 saja, penerbitan obligasi korporasi sudah Rp 137,05 triliun, jauh lebih besar ketimbang tahun 2016 yang senilai Rp 113,69 triliun. []

 

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *