Meramal pertumbuhan ekonomi 2018

by

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2018 masih tetap 5%. Kebijakan industri diperlukan untuk perkuat ekspor. ,Konsumsi rumah tangga yang lemah membuat Indef melihat pertumbuhan ekonomi tahun depan masih tetap tumbuh moderat di 5%. Selama kuartal II dan III 2017 konsumsi dinilai belum menunjukkan kenaikan yang signifikan.

“Padahal ini kan yang paling besar,” kata Didik J Rachbini, ekonom senior Indef, Rabu (22/11).

Menurutnya, belum ada lompatan yang begitu besar meskipun ekspor dan investasi mulai bergerak. Saat ini separuh dari ekspor Indonesia masih berupa barang mentah. Sementara investasi pun berasal dari utang.

Didik menambahkan, pemerintah perlu kembali mendongkrak sektor industri yang memiliki porsi paling besar di perekonomian. Pemerintah diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan industri yang mengarah ke ekspor.

Ia menyarankan adanya konsentrasi pembangunan infrastruktur di jalur Banten-Jakarta-Cikarang-Jawa Tengah-Surabaya sehingga membantu proses industrialisasi di wilayah tersebut.

Alasan yang sama juga diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsjah. Rendahnya konsumsi dan aliran kredit dinilai akan menahan pertumbuhan ekonomi 2018 di angka 5%.

Menurutnya, ada faktor global dan domestik yang perlu diperhatikan Indonesia di tahun 2018. Faktor global yang dimaksud adalah pergerakan suku bunga Amerika dan proses normalisasi yang sedang dilakukan oleh China. Kedua hal tersebut berisiko bagi perekonomian Indonesia yang dinilainya dalam situasi krisis.

Sementara dari sisi domestik dilihatnya menunjukkan perbaikan. Ia menambahkan, perekonomian Indonesia akan membaik jika ekspor dapat membaik dan permintaan dunia terhadap barang-barang ekspor tetap kuat. []

 

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *