Perry Warjiyo: “Kami Siap Stabilkan Nilai Tukar Rupiah”

by
Perry Warjiyo Siap Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Pasca pelantikan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru menggantikan posisi Agus Martowardojo yang telah usai masa jabatannya, Perry Warjiyo langsung dihadapkan oleh beberapa PR besar salah satunya yaitu PR jangka pendeknya kembali mengatrol posisi nilai tukar rupiah.

Usai pelantikan Rabu lalu (24/5) Perry mengatakan bahwa dirinya berjanji akan melakukan penguatan kebijakan moneter melalui suku bunga acuan dan intervensi pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang semakin merosot.

“Kebijakan moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dengan kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi ganda adalah prioritas yang akan kami lakukan,” ujarnya.

Seperti diketahui bahwa Perry selalu berkampanye terkait kebijakan moneter propertumbuhan dan prostabilitas itu menekankan, instrumen kebijakan moneter akan sepenuhnya digunakan untuk menjaga stabilitas perekonomian. Instrumen moneter diprioritaskan untuk menghadapi tekanan yang disebabkan normaliasi kebijakan moneter AS dan terus naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS, US Treasuy Bill, yang menyedot modal asing di Indonesia.

Namun, kata dia, BI tidak akan mengabaikan potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya dengan instrumen makroprudensial. “BI masih memiliki empat instrumen lainnya untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry yang menghabiskan lima tahun terakhirnya menjadi deputi gubernur BI.

Anak petani dari desa di Sukoharjo itu berjanji akan menerapkan kebijakan moneter yang terdepan dan antisipatif atau pre-emptive dan ahead the curve guna merespons dinamika ekonomi global yang penuh dibayangi ketidakpastian. “Nilai tukar sekarang sudah overshoot,” ujar dia.

“Kami juga akan pre-emptive, ahead the curve dalam resep kebijakan suku bunga. Kemudian, lakukan intervensi ganda stabilkan kurs dan beli surat berharga negara (SBN) dari pasar,” katanya menambahkan.

Bank sentral sudah menghabiskan Rp 50 triliun untuk membeli SBN sejak awal tahun, termasuk di dalamnya sebesar Rp 13 triliun pada Mei 2018 ini. Intervensi itu untuk meredakan gejolak di pasar SBN karena tekanan modal keluar menyusul naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS.

Perry dalam waktu dekat juga akan memanggil perbankan yang aktif dalam pengelolaan devisa untuk “menenangkan” dan menyosialisasikan kebijakan moneter. “Saya juga akan perkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan. Saya juga akan aktif berkomunikasi dengan perbankan, misalnya untuk membenarkan banyak mispersepsi,” tutup Perry. []

About Author: WartaBank

Gravatar Image
Media Sinergitas Perbankan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *