Bank Besar Belum Penuhi Ketetapan RIM dari BI

oleh
Bank besar

Bank besar dinilai belum memenuhi ketentuan terkait Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) yang belum lama ini digulirkan oleh Bank Indonesia (BI). Tindakan yang diharapkan melonggarkan ruang likuidasi perbankan. Bank besar dan bank kecil harus mengikuti peraturan yang berlaku efektif mulai Juli 2019.

RIM yang dihitung berdasarkan kemampuan bank memberi kredit agar pertumbuhan bank tetap sesuai yang diharapkan ini naik menjadi 84 samai 94 persen dari 82 sampai 90 persen. Bank besar yang memiliki RIM di kisaran yang ditentukan berdasarkan perhitungan tidak akan mengalami likuidasi atau penyusutan aset.

Namun, tidak hanya bank kecil yang belum mencapai RIM yang ditargetkan. Bank besar yang sudah sangat dikenal masyarakat beberapa belum memenuhi ketentuan. Sebut saja BCA dan BTN.

Bank BCA mempunyai RIM berkiasar 82 sampai 83 persen, jauh di bawah kisaran yang akan berlaku.

Baca Juga: Bank Indonesia Resmi Meluncurkan Pelonggaran RIM

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiatmadja, mengakui kisaran RIM BCA yang masih di bawah standar. Namun, menurut Jahja hal tersebut tidak mengganggu kinerja bank. BCA mengalami likuidasi tidak ketat dan masih ada ruang penyaluran kredit dengan pertumbihan bank diharapkan lebih dari 10 persen.

Bank besar pimpinan Jahja ini disebutkan sudah mencapai target pertumbuhan di atas 10 persen. Kondisi yang ada tidak membuat BCA menerbitkan surat hutang. Sumber pendanaan masih dapat diperoleh dari dana pihak ketiga (DPK).

BANK BESAR TERANCAM SANKSI

Berbeda dengan bank besar BCA, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memiliki RIM jauh di atas ketentuan, yaitu 102,2 persen.

Direktur Keuangan BTN, Imam Nugroho Soeko memaparkan bahwa kondisi RIM yang berada di atas 100 persen tidak bermasalah. Ini terjadi karena kredit yang disalurkan BTN kebanyakan adalah kredit rumah KPR yang membutuhkan dana jangka panjang.

Menurut Imam lagi, RIM yang ditetapkan pemerintah hanya mengukur obligasi korporasi, Medium Tern Notes (MTN), dan Floating Rate Nites (FRN). Sementara BTN mempunyai varian kredit lain yang tidak dihitung dalam RIM, seperti KIK EBA sintetik, NCD, pinjaman bilateral, dan global bonds selain obligasi.

Pertumbuhan kredit BTN per tahun sudah mencapai 13 sampai 15 persen.

Apapun alasan bank besar dan kecil, ketentuan BI tentang RIM sudah digulirkan. Masih ada waktu hingga akhir Juni 2019 untuk menyesuaikan dengan kisaran yang ditetapkan. Jika tidak, BI akan memberikan sanksi seperti sebelumnya. Sanksi tersebut berupa membayar denda dengan perhitungan satu hari sama dengan keurangan giro RIM dikali 125 persen dikali suku bunga jibon overnight. []

Tentang Penulis: Berita Bank

Gambar Gravatar
Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *