Bank BTPN Dorong Kinerja Andalkan Fee Based Income

oleh
Bank BTPN

Bank BTPN optimis adanya perbaikan kinerja dengan cara menggenjot fee based income pada kuartal kedua tahun 2019 ini. Walaupun masih belum banyak berharap pada pendapatan bunga.

Ongki Wanadjati, selaku President & CEO Bank BTPN mengatakan pendapatan operasional non-bunga adalah pos yang bisa membuat perbaikan pada kinerja perseroan pada kuartal kedua tahun ini.

Hal tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya fokus dalam menggarap segmen korporasi. Yang akan memberi peluang meningkatkan perseroan dengan pendapatan fee berasal dari bisnis korporasi. Contohnya seperti trade finance, valuta asing, dan transaksi sindikasi.

“Kami (merupakan) bank besar. Kami memiliki kesempatan untuk menggenjot fee based income (menjadi) lebih baik,” jelas Ongki Wanadjati.

Bank BTPN Raih Pertumbuhan

Ada pula pada pendapatan operasional selain bunga dari pos komisi atau provisi (fee) dan administrasi kuartal pertama tahun 2019. Bank BTPN mencatatkan Rp103,24 miliar, atau bertumbuh sebanyak 53,35 persen yoy. Pos tersebut menyumbang sekitar 8,27 persen dari total pendapatan operasional non-bunga.

Namun, laba bersih konsolidasi perseroan tertulis turun dari sebelumnya sebesar Rp535 miliar pada Maret 2018 menjadi Rp507 miliar atau berarti turun sebanyak 5,3 persen yoy (year on year). Penurunan laba bersih itu sejalan dengan rasio margin bunga bersih atau NIM (Net Interest Margin) yang turut menurun dari sebelumnya 11,30 persen per kuartal I/2018 menjadi sebesar 6,95 persen pada kuartal I/2019.

Perseroan mengklaim turunnya laba perseroan tersebut dikarenakan oleh penggabungan usaha atau merger. Antara Bank BTPN dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).

Pada kuartal kedua tahun ini Ongki menjelaskan, tekanan pendapatan bunga tetap begitu terasa. Perseroan tidak bisa mentransfer peningkatan biaya dana terhadap nasabah kredit yang didominasi oleh nasabah korporasi.

Sebab, penetapan suku bunga kredit korporasi didasari oleh perjanjian yang cukup detail. Serta tidak bisa diubah tanpa ada pembahasan dengan nasabah sebelumnya. Dari sisi lain, perseroan juga belum akan begitu agresif dalam menyalurkan kredit di kuartal kedua tahun 2019 ini. Hal itu membatasi perseroan untuk meningkatkan pos pendapatan berbasis bunga.

“Kami optimistis penyerapan kredit pada kuartal kedua bakal lebih baik. Hambatan (yang berasal) dari tensi politik sudah selesai. Namun, (pada) semester pertama ini kami masih memilih untuk konservatif dalam penyaluran,” ujar Ongki.

Sementara nilai penyaluran Bank BTPN bergerak pada kisaran Rp60 triliun. Namun aksi merger pada awal tahun ini membuat nilai penyaluran kredit perseroan meningkat menjadi Rp132,33 triliun. []

Tentang Penulis: Berita Bank

Gambar Gravatar
Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *