Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan Lagi!

oleh
Bank Indonesia

Bank Indonesia atau BI untuk kedelapan kalinya melakukan penahanan terhadap suku bunga acuan di level 6 persen. Adapun lending deposit tersebut adalah sebesar 6,75 persen dan facility deposit sebesar 5,25 persen.

Namun demikian, alasan diberlakukannya hal tersebut oleh Bank Indonesia dilakukan adalah melonggarkan Giro Wajib Minimum (GMW) yang menjadi kebijakan lain BI. kebijakan tersebut diambil sebesar 50 basis atau BPS untuk bank umum, baik itu konvensional maupun syariah.

Pertanyaan pun mulai bermunculan, yang diantaranya adalah apabila bunga acuan tidak turun, lantas bagaimana dengan nasib bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang memang mengacu pada bunga di bank sentral?

Piter Abdullah sebagai Direktur Riset Center of Reforms on Economics atau CORE, memberikan tanggapan untuk hal tersebut. Piter mengatakan dengan ditahannya bunga acuan membuat kemungkinan akan bunga kredit semakin sulit untuk turun.

Saat dihubungi oleh salah satu media, Piter dengan tegas mengatakan apabila bunga acuan tidak turun, kecil sekali peluang bunga kredit perbankan yang di mana bunga KPR masuk di dalamnya. Ditambahkan pula bahwa di tengah ketatnya likuiditas saat ini, semakin mempersempit peluang untuk menaikkan suku bunga.

Bank Indonesia Longgarkan Likuiditas

Oleh sebab itu dengan langkah yang diambil, Piter berharap dapat membantu semua pihak. Untuk mengimbangi penahanan bunga acuan tersebut, pada akhirnya Bank Indonesia melonggarkan likuiditas, yakni dengan menurunkan GMW.

Piter Abdullah beranggapan dengan adanya pelonggaran tersebut, akan memberikan ruang yang lebih besar kepada bank untuk menawarkan kredit pada calon nasabah mereka.

Dalam wawancara tersebut, Piter juga menambahkan argumennya, yakni “Likuiditas jadi lebih banyak, sehingga peluang naiknya penyaluran kredit, termasuk kredit properti tetap terbuka,” ucap Piter.

Bank Indonesia atau BI sebelumnya sudah mengambil langkah untuk menurunkan giro wajib minimum, yaitu sebesar 50 basis poin (bps) atau 0,5 persen. Dan pada tanggal 1 Juli 2019 mendatang, GWM tersebut sudah mulai berlaku. Yang di mana 6 persen untuk bank umum konvensional dan 3,5 persen diberlakukan untuk bank syariah. []

Tentang Penulis: Berita Bank

Gambar Gravatar
Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *