in ,

Bank Kecil Butuh Modal, Ini Kata OJK!

Bank kecil

WARTABANK.COM, Jakarta – Bank kecil di Indonesia masih banyak yang membutuhkan tambahan modal yang besar agar bisa bersaing di bisnis perbankan nasional.

Beberapa strategi yang dijalankan perbankan berskala kecil ini yang semula masih BUKU I di antaranya mendatangkan investor bahkan melakukan konsolidasi dengan bank besar.

Adapun ketentuan modal inti minimum yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp3 triliun pada 2022 masih banyak yang belum bisa mengikuti.

Untuk itu, OJK RI berharap bank-bank dengan bisnis yang kecil di Indonesia yang punya kinerja bagus bisa diambil alih oleh investor lokal agar tidak jatuh ke tangan asing.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo menekankan, jangan sampai bank dengan kinerja sudah bagus justru nantinya dikuasai asing karena tak dilirik investor lokal.

“Untuk mengambil alih bank-bank kecil yang bagus ini, OJK akan mengutamakan memberi izin kepada investor lokal. Kalau asing mau ambil harus kerja dulu, jadi jangan sampai dikasih ke asing, itu tidak benar,” kata Slamet Edi, dalam webinar Arah Bisnis 2022, Selasa (15/12/2021).

Terkait langkah konsolidasi dengan perbankan berskala besar, Slamet memaparkan beberapa kerjasama strategis yang sudah berjalan.

Di antaranya Bank Royal yang kini telah diakuisisi oleh BCA dan diganti nama menjadi BCA Digital, Bank Mayora diambil alih oleh Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Harda Indonesia yang diakuisisi oleh Grup Bank Mega dan diganti menjadi PT Allo Bank Indonesia.

Sementara akuisisi dari investor strategis juga mulai berjalan, seperti Grup Shoppe yang mengambil alih Bank Kesejahteraan Ekonomi dan diganti nama menjadi Sea Bank Indonesia.

Kemudian ada juga Kredivo yang sudah mencaplok 40 persen saham PT Bank Bisnis Indonesia, lalu Ajaib mengakuisisi 24 persen saham PT Bank Bumi Arta, dan Emtek Group yang tengah merampungkan proses akuisisi 93 persen saham PT Bank Fama Internasional.

Mekanisme Pasar Modal

Menurut Slamet, ada juga bank yang memilih melakukan mekanisme penghimpunan dana di pasar modal agar bisa memenuhi batas minimal permodalan.

Namun dalam hal ini, Slamet menyebut pihaknya memberlakukan aturan ketat dalam memberikan perizinan untuk memastikan keberlanjutan dari bisnis perusahaan terkait

“Kalau dari pasar modal OJK perlu mewaspadai jika bank itu tidak punya ekosistem, karena bisnisnya bisa saja tidak bertumbuh, maka OJK harus hati-hati,” kata dia.

Slamet menyakini bank yang tidak punya ekosistem tapi mencoba masuk ke area digitalisasi tidak akan bertahan lama karena daya saingnya terbatas.

Hal itu lantaran investasinya juga terbatas yang pada akhirnya bank itu tidak akan bisa berkompetisi di bisnis perbankan dengan pelaku usaha lainnya.

“Kalau sudah begitu, kita khawatir nantinya bank seperti ini hanya akan memainkan isu bank digital saja. Pada akhirnya kalau dibiarkan justru bisa bisa merusak pasar dan membuat masyarakat kecewa karena sudah membeli sahamnya. Ini yang perlu dijaga oleh OJK,” tegasnya.

Ia pun menyatakan, jangan sampai saham-saham bank ini hanya ikut digoreng dengan rumor ada investor di belakangnya, padahal faktanya tidak ada. []

Written by Eko Prasetyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Penutupan bank

Penutupan Bank Tercatat 117 Bank Sejak 2005!

KUR Pariwisata

KUR Pariwisata Bank Mandiri Dioptimalkan, Tembus Rp4,79 Triliun