BI Menjamin Likuiditas Perbankan Mencukupi Hingga Akhir 2019

oleh
BI

BI / Bank Indonesia menjamin likuiditas perbankan masih mencukupi hingga akhir tahun 2019 ini. Kondisi tersebut sejalan dengan tiga langkah yang diambil guna mengatasi ketatnya likuiditas perbankan nasional.

“Bank-bank yang kesulitan likuiditas bisa ke pasar atau pun ke BI dengan repo. Misalnya (pada) year to date kami sudah ekspansi Rp99,97 triliun. Hal ini bagi bank-bank yang alami kesulitan likuiditas bisa (datang) ke BI dengan term repo,” jelas Perry Warjiyo selaku Gubernur BI.

BI Soal Ketatnya Likuiditas Perbankan

Ketiga langkah itu di antaranya, yang pertama operasi moneter akan memudahkan bank dalam menyalurkan dana bagi bank yang kelebihan likuiditas. Jadwal operasi moneter telah disampaikan BI hingga enam bulan ke depan.

Maka dengan begitu, perbankan dapat mengetahui jadwal lelang operasi moneter dua arah. Sehingga BI bisa melakukan sirkulasi bagi bank yang mengalami kelebihan atau pun kekurangan likuiditas.

Untuk langkah kedua, BI sudah menurunkan Giro Wajib Minimum atau GWM sebanyak 50 basis point (bps) sejak dua bulan yang lalu. Penurunan tersebut akan menambah likuiditas perbankan sebesar Rp26 triliun. Diharapkan bank-bank menyalurkan kredit ke sektor riil.

Terakhir, pada langkah ketiga BI berharap transmisi kebijakan moneter ke dalam suku bunga perbankan dapat dipercepat. Hal itu dilakukan dengan cara sinergi antar kementerian atau lembaga yang ada dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

“Dari tahun lalu hingga sekarang suku bunga kredit tidak naik tetapi turun meski tahun lalu kami naikkan 175 bps. Inilah hasil sinergi yang erat antara (pihak) BI, OJK, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Kementerian Keuangan dalam KSSK,” tutur Perry.

Selain itu, BI juga bakal tetap mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif di sepanjang tahun 2019 ini. Kebijakan itu ditempuh sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi serta perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi. Di tengah kondisi ketidakpastian dalam keuangan global dan stabilitas eksternal yang terkendali.

BI juga menyokong dengan kebijakan makro prudensial yang akomodatif guna mendorong kredit perbankan. Serta untuk semakin memperluas pembiayaan perekonomian.

Adapun untuk nilai tukar rupiah secara year to date masih terbilang stabil, bahkan mengalami apresiasi sebanyak 2,64 persen. Yang disebabkan menariknya investasi portofolio di Indonesia dan kondisi defisit transaksi yang kian membaik. []

Tentang Penulis: Berita Bank

Gambar Gravatar
Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *