in , ,

DBS Group : Sektor Konsumsi Asia Tenggara Membaik

DBS Group

DBS Group melalui lembaga risetnya memperkirakan kinerja sektor barang konsumsi di Asia Tenggara akan menunjukkan perbaikan, dibandingkan dengan sektor lain, mengingat valuasi saat ini relatif menarik.

Joanne Goh, Pakar Strategi Ekuitas DBS Group Research menilai sektor industri barang konsumsi akan menjadi penyelamat bagi pasar Asia Tenggara, di tengah ketidakpastian perkiraan pertumbuhan, dan persoalan perang dagang. Belum lagi volatilitas mata uang, dan beragam sentimen negatif dalam perekonomian global.

Baca Juga: Syarat KUR BRI, Sangat Mudah

“Pada 2019, kami mengharapkan faktor utama berikut dapat mendukung sektor industri barang konsumsi. Pertama, pertumbuhan PDB ASEAN-5 stabil pada 3-6,5%. Kedua, pemulihan bertahap dalam konsumsi, yang terbantu oleh persiapan pemilihan umum di Thailand dan Indonesia,” paparnya dalam keterangan tertulis, beberapa waktu lalu.

Faktor ketiga yang dapat mendukung sektor industri adalah keuntungan kotor yang stabil dalam paruh pertama 2019, berkat harga komoditas yang ramah.

Di antara negara ASEAN, DBS memiliki pandangan lebih positif atas kinerja sektor industri barang konsumsi di Indonesia dan Thailand. Lembaga riset itu menyarankan pembelian aset perusahaan yang menguntungkan adalah konsumsi domestik karena mencatat perbaikan pendapatan.

“Berdasarkan atas agregat gerai nasabah dalam penilaian kami, valuasi rasio harga terhadap pendapatan (price earning ratio) berada di angka -1 deviasi standar di bawah rata-rata historis 5 tahun — tingkat yang belum pernah terlihat sejak tujuh catur wulan lalu pada Kuartal I 2016,” ungkapnya.

DBS Group : Suku Bunga Obligasi Negara Jangka Pendek Bullish

Terkait suku bunga obligasi, Eugene Leow, Pakar Strategi Suku Bunga DBS Group Research berpendapat, obligasi pemerintah Indonesia bertenor lebih pendek (fixed tiga tahun) akan mempertahankan kinerja baik dalam beberapa bulan ke depan.

Hal itu didasarkan pada kembalinya minat pasar berkembang setelah penjualan besar-besaran pada 2018 lalu. Mengingat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve berpotensi tak lagi agresif pada tahun ini untuk meningkatkan suku bunga. DBS menduga Bank Indonesia akan bisa mempertahankan suku bunga sepanjang sisa tahun, mendukung aset pendapatan tetap.

Sejumlah tanda yang menunjukkan perbaikan likuiditas antara lain, Jibor bertenor 3 bulan (7,42%) dan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia berjangka waktu satu tahun cenderung lebih rendah selama seminggu terakhir.

“Kami menduga banyak yang harus dilakukan jika selera terhadap risiko (risk appetite) bertahan,” katanya.

Hal itu terutama mengingat rentang Jibor berjangka waktu 3 bulan dan tingkat suku bunga acuan BI di angka 142bps masih relatif besar. Maka itu, masih ada kemungkinan untuk penurunan sebesar 20-40bps.

Baca Juga: Migas Pertamina, Inilah Kinerjanya

Sejauh ini, kenaikan suku bunga sebagian besar terbatas pada tenor sangat singkat. Seharusnya ini berimbas ke segmen bertenor 2 dan 3 tahun dalam beberapa pekan mendatang. DBS Group berpendapat, tenor 3 tahun sangat menarik. Rentang obligasi pemerintah berjangka waktu 1-3 tahun kerkisar di atas 100bps.

Secara khusus, rentang obligasi pemerintah berjangka waktu 1-3 tahun lebih dari 100bps diasosiasikan dengan periode volatilitas pasar. Minat terhadap lelang akhir-akhir ini tidak terlalu besar. Hal itu bisa saja disebabkan oleh nilai obligasi yang diterbitkan yang sedikit lebih besar daripada harapan. []

Berita Bank

Written by Berita Bank

Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KPR BTN

KPR BTN Tersalurkan 757.093 Unit di 2018

BTPN Syariah

BTPN Syariah Cetak Kinerja Positif