Defisit Transaksi Berjalan! Ini Jurus Sri Mulyani

oleh
Defisit transaksi berjalan

Defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit) yang tengah terjadi, agaknya membuat Menkeu Sri Mulyani harus berpikir keras. Pihaknya juga tak ingin jika masalah ini semakin meluas hingga akhir tahun. Seluruh instrumen akan dipersiapkan guna membantu kementerian terkait, serta pemerintah mampu memecahkan masalah ini.

Sri Mulyani menuturkan, jika kementerian terkait ini salah satunya ialah Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Hal ini dikarenakan defisit transaksi berjalan atau CAD ini sebagian besar berhubungan dengan migas. Begitu pula dengan sektor investasi, yakni kementerian Perdagangan, Pertanian, serta Perindustrian.

Sri Mulyani juga menambahkan, jika bidang kementerian yang disebutkan sangat berkaitan erat dengan masalah CAD ini. Pihak-pihak tersebut berkompeten serta sanggup berkontribusi terhadap CAD ataupun defisit Neraca Dagang. Hal inilah yang mendasari keyakinan Sri Mulyani gunakan instrumen fiskal untuk bantu kementerian terkait.

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Masaalah

Defisit Transaksj berjalan ini sebenarnya merupakan masalah klasik. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Masalah CAD ini telah terjadi Khususnya sejak masa orde baru, di mana Indonesia mengalami kelangkaan surplus.

Di sisi lain, usaha untuk menggenjot ekspor kuartal kedua 2019 dari tingkat Pemda menjadi prioritas utama Kemenkeu sendiri. Usaha ini diterapkan dalam bentuk kerja sama dunia usaha beserta pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Menkeu sendiri yang akan pastikan proses review formulasi aneka kebijakan makro untuk perbaiki CAD. Sri Mulyani juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan bagi pemerintah untuk melakukan beberapa penyesuaian.

Neraca dagang agaknya masih positif karena terbantu oleh ekspor migas yang saat itu masih berada di masa kejayaan. Akan tetapi pemerintah tetap harus melakukan beragam kebijakan untuk mengatasi CAD ini. Salah satunya dengan cara menekan impor bahan bakar avtur dan solar.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan data mengenai defisit transaksi berjalan ini pada kuartal kedua tahun 2019. Pencapaian tiga persen dari angka Produk Domestik Bruto ini menginjak nominal hingga 8,4 miliar dollar AS. Angka ini ditengarai meluas dibanding sebelumnya yang hanya berada di level 2,6 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dengan nominal 7 miliar dollar AS. []

Tentang Penulis: Berita Bank

Gambar Gravatar
Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *