in , ,

Ekonom DBS Prediksi Suku Bunga Acuan Masih Terjadi

Suku Bunga Acuan

Ekonom DBS Group Research Radhika Rao memprediksi kenaikan suku bunga acuan pekan lalu bukanlah akhir siklus kenaikan suku bunga.

“Sebagai landasan kami telah menyampaikan kenaikan 50 basis poin (bps) untuk semester II 2018. Dengan 25bps yang telah dilakukan pada hari pekan lalu, sisanya diperkirakan akan terjadi dalam kuartal IV,” ujarnya.

Hal itu dipicu agresivitas bank sentral Amerika Serikat The Fed yang masih akan meningkatkan bunga acuan, kekhawatiran perang dagang antara AS dan China, serta resolusi krisis Turki.

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan mencapai 125 bps secara akumulatif, atau dari 4,25% kini menjadi 5,5% sepanjang tahun ini.

Dia menilai jika rupiah tetap berada di bawah tekanan, maka bank sentral kemungkinan besar akan kembali meningkatkan level suku bunga acuan. Pasalnya, terdapat sejumlah sensitivitas nilai tukar maka tuang, meskipun ini adalah gejolak yang biasa terjadi pada negara berkembang.

“Jika rupiah tetap berada di bawah tekanan, BI akan kembali melakukan kenaikan, menurut pandangan kami,” ungkap Radhika dalam hasil risetnya.

Menjelang tahun pemilihan umum, lanjutnya, reformasi subsidi atau liberalisasi harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan terjadi tahun depan. Maka itu, suku bunga acuan berpotensi naik untuk mengatasi defisit neraca yang terjadi di Indonesia.

Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, preferensi bank sentral mengacu pada kebijakan pre-emptive, front loading, and ahead the curve. Proyeksi pertumbuhan ekonomi hanya berada pada level 5,0-5,4% sampai akhir tahun ini, dengan jumlah inflasi di kisaran 2,5-4,5%.

Kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan tak dipungkiri karena depresiasi kurs mata yang yang bergerak cepat, dan kebutuhan untuk menahan ketidakstabilan pasar uang.

Mata uang telah berada di bawah tekanan sejak awal tahun, bahkan penjualan mata uang meningkat ketika krisis lira Turki juga melemah. Kelemahan kurs juga menyebar hingga pasar obligasi tenor 10 tahun dengan imbal hasil yang melonjak melewati 8% dan pasar saham terus merugi.

Selain meningkatkan suku bunga acuan, bank sentral juga terus melakukan intervensi di pasar uang domestik dan pasar obligasi. Buktinya, cadangan devisa merosot. []

BI mempertahankan agar pertukaran provisi mata uang asing berada pada tingkat yang atraktif, sehingga membantu menjaga pertukaran premium.

Pemerintah telah mengambil peran penting untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan. Beberapa upaya di antaranya, membatasi impor barang modal, membeli pasokan BBM lokal untuk mengurangi impor BBM, termasuk penggunaan campuran sawit dan biodiesel.

Langkah terakhir,mengambangkan penerbitan obligasi berdenominasi asing.

Written by Berita Bank

Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bank Terbaik di Asia

Citi Diklaim Jadi Bank Terbaik di Asia, Apa Alasannya?

Kredit konsumsi

Kredit Konsumsi Jadi Penopang Pertumbuhan Kredit Bank