in , , ,

Kebijakan Moneter Negara-Negara Utama Terus Dipantau OJK

Kebijakan moneter

Kebijakan moneter sebagian negara di dunia saat ini dipengaruhi oleh sentimen global atau kebijakan ekonomi dunia secara menyeluruh yang dikendalikan oleh negara-negara utama.

Perlambatan perekonomian global dipengarhui oleh kebijakan moneter negara-negara indikator ekonomi yang lebih longgar.

Kebijakan moneter yang ada dipengaruhi oleh indikator ekonomi negara Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan China. Penurunan ekspektasi atau harapan ekonomi negara-negara tersebut ikut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2019.

The Fed, di Amerika Serikat berencana tidak menaikkan Federal Founds Rate (FFR) di tahun 2019. The Fed juga merencanakan menghentikan program normalisasi neraca mulai September 2019.

Berbeda dengan Amerika Serikat, Eropa dan Jepang yang juga menjadi negara indikator ekonomi, mempunyai kebijakan moneter mempertahankan suku bunga 2019 sesuai perencanaan sambil terus berkomitmen menyediakan likuiditas yang dibutuhkan pasar.

China, negara dengan ekonomi maju yang terus merangkak naik merencanakan kebijakan moneter yang memberikan insentif moneter dengan pelonggaran suku bunga dan rasio giro wajib minum (GWM) dan insetif fiskal. Kebijakan yang melibatkan GWM ini berhubungan dengan tarif pajak dalam negeri.

Kebijakan moneter empat negara di atas sangat mempengaruhi inflow emerging di pasar surat utang dan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan.

Baca Juga: bank Indonesia Belum Menurunkan Suku Bunga

Namun, masyarakat Indonesia tidak perlu bingung. Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo, saat Rapat Dewan Komisoner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan bahwa sampai saat ini stabilitas dan likuiditas jasa keuangan di Indonesia tetap terjaga. OJK sebagai lembaga yang mengatur lembaga jasa keuangan terus melakukan pemantauan agar semua terkendali.

KEBIJAKAN MONETER DALAM RANGKA STABILITAS

Di tahun 2019 ini, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga kebijakannya sejak akhir tahun 2018.

Stabilitas dan likuiditas jasa keuangan yang tetap terjaga dibuktikan dengan beberapa hal selama bulan Febuari 2019, yaitu:

1. Nilai tukar rupiah di bulan Februari hanya melemah tipis di kisaran 0,64 persen mtm. Pasar saham juga melemah tipis di bulan Febuari 2019, dengan kisaran 1,37 persen,. Penjualan bersih di pasar saham masih sebesar Rp3,4 triliun.

2. IHSG meningkat sebesar 4,02 persen dengan investor non residen yang melakukan pembelian bersih Rp10,5 triliun.

3. Pertumbuhan kredit perbankan terlihat trennya meningkat dan pada bulan Febuari tumbuh 12,13 persen.

4. Piutang pembiayaan perusahaan meningkat sebesar 4,61 persen yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit / pembiayaan untuk kegiatan investasi.

5. Penghimpunan dana dari DPK Perbankan meningkat 6,57 persen. Peningkatan tersebut terlihat dari semua sektor kegiatan penghimpunan dana, antara lain: asuransi, dan korporasi.

6. Profil lembaga jasa keuangan mempunyai rasio Non Performing Loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,59 persen dan rasio Non Performing Financing di level 2,70 persen.

7. Jumlah total aset likuid perbankan mencapai Rp1,162 triliun di Febuari 2019 dan dianggap layak untuk mendukung pertumbuhan kredit.

Jelas tampak bahwa sampai saat ini perekonomian dan perbankan Indionesia masih stabil dan semoga dengan pantauan OJK semua terus terkendali. Kebijakan moneter negara utama tidak berpengaruh banyak pada perekonomian Indonesia. []

Berita Bank

Written by Berita Bank

Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bank Woori

Bank Woori Cetak Kinerja Positif di 2018

Pembiayaan UMKM

Pembiayaan UMKM: Kinerja Bank BJB Disoroti