in

Kerugian Bank Raya Capai Rp1,85 Triliun

Kerugian Bank Raya

WARTABANK.ID, Jakarta – Kerugian Bank Raya Indonesia Tbk di kuartal III tahun ini tercatat sangat besar yakni mencapai Rp1,83 triliun.

Kerugian Bank Raya atau sebelumnya bernama PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk ini cukup mengejutkan karena di periode yang sama tahun lalu justru meraup laba bersih hingga Rp25,40 miliar.

Merujuk laporan keuangan yang telah dipublikasikan, kerugian Bank Raya ini terjadi karena membengkaknya beban kerugian penurunan nilai aset keuangan sebesar Rp2,29 triliun.

Padahal Bank Raya pada September 2021 mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih 41,84 persen secara tahunan menjadi Rp656,67 miliar dari sebelumnya Rp462,97 miliar.

Kerugian Bank Raya yang bersandi saham AGRO ini pun mendapat sorotan oleh induk perusahaan, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Direktur Utama BRI, Sunarso menyatakan laba BRI di kuartal III 2021 dari bank only mencapai Rp20,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan laba konsolidasi Rp19,07 triliun.

Hal ini terjadi karena laba keseluruhan itu lebih kecil dari laba bank lantaran BRI harus mengakomodir kerugian Bank Raya.

Maka kerugian yang cukup besar di Bank Raya ini, kata Sunarso harus segera dibenahi agar kondisinya bisa membaik di periode selanjutnya.

“Ini yang perlu segara kita bereskan,” ujar Sunarso, beberapa waktu lalu.

Dalam laporan keuangan tersebut, tercatat Kredit Bank Raya mengalami penurunan sebesar 28, 11 persen secara tahunan Rp19,92 triliun menjadi Rp14,32 triliun.

Beban Kerugian Bank Raya

Sementara himpunan dana pihak ketiga (DPK) di bank ini juga merosot hingga 26,73 persen (yoy) dari Rp23,01 triliun di September 2020 menjadi Rp16,86 triliun di September tahun ini.

Modal inti anak usaha BRI ini juga menurun drastis yakni 42,93 persen secara tahunan dari Rp4,17 triliun menjadi Rp2,38 triliun.

Hal itu pun berdampak pada rasio kecukupan modal minimum atau CAR Bank Raya yang turun menjadi 17,48 persen dari sebelumnya 22,60 persen di kuartal ketiga 2020.

Kendati demikian, rasio kredit bermasalah atau NPL di bank ini menurun 7,24 persen, dari periode yang sama di tahun lalu sebesar 4,61 persen.

Sementara peningkatan beban kerugian juga membuat biaya operasional terhadap pendapatan operasional bank membengkak hingga 237,74 persen, namun rasio penyaluran kredit terhadap total DPK terjaga di level 84,93 persen.

Untuk diketahui, Bank berkode AGRO ini akan melakukan penambahan modal dengan cara right issue dan menargetkan dana segar hingga Rp1,16 triliun.

Pihak Bank Raya akan menerbitkan saham baru hingga 1 miliar lebih untuk proses hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan nominal Rp100 per saham.

Jumlah itu setara 4,64 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dan saham ini akan ditawarkan dengan harga Rp1.100 per saham.

Berdasarkan prospektus rights issue yang diterbitkan pada Jumat 19 November lalu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebagai pengendali akan mengeksekusi seluruh haknya dalam rights issue ini. []

Written by Agus Dilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kredit korporasi

Kredit Korporasi ke Perusahaan Terbuka Kian Meningkat

Penyaluran KUR

Penyaluran KUR Dipacu Capai Rp244 Triliun!