Perbankan Syariah Masih Stagnan

oleh
Perbankan syariah

Perbankan syariah saat ini di Indonesia semakin memilki peran penting terhadap perekonomian. Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi jumlah kaum muslim terbesar di dunia menjadikan pasar syariah yang sangat potensial. Pada kondisi tersebut, kemajuan keuangan syariah menjadi salah satu titik sentral.

“Perbankan syariah tidak maju, padahal 30 tahun kita punya bank syariah tapi market share-nya hanya 5 persen. Sekarang masih stagnan juga, kita ingin tahun 2008 lalu di atas 5 persen tapi memang betul sulit sekali dicapai. (Rasanya) amat menyedihkan,” ungkap Burhanuddin Abdullah, selaku mantan Gubernur BI periode 2003-2008.

“Kalau saja pemerintah bisa turun tangan agar industri bank syariah besar, kalau perlu salah satu bank pemerintah (BUMN) dijadikan bank syariah. Daripada BNI dan Mandiri terus bersaing, lebih baik dibikin salah satu bank syariah (konversi ke syariah),” kata Burhanuddin.

Salah satu kendala yang menghalau kemajuan industri perbankan syariah adalah sikap politik yang tidak jelas. “Kendala sikap politik yang mendorong, kalau sikap politiknya jelas, ini salah satu yang penting (dalam kemajuan). Kedua, masyarakatnya harus sejahtera, kreativitas untuk menciptakan instrumen syariah untuk industri keuangan kita,” jelas Burhanuddin.

Ke depannya diperkirakan industri keuangan syariah akan menghadapi penurunan bila terobosan-terobosan perbankan syariah tidak dimaksimalkan dengan baik oleh pemerintah..

“Sekarang ini (masih) stagnan 5 persen, tertolong karena Aceh menjadi bank syariah. Mungkin tahun depan bisa jadi turun karena bank konvensional kian besar, karena keuntungan besar dan mengambil suku bunganya besar-besar. Maka bank asing pada masuk (ke Indonesia),” ucap Burhanuddin.

Regulasi Perbankan Syariah

Dosen UGM Yogyakarta, Anggito Abimanyu menambahkan, ada dua hal yang harus dilakukan untuk mendorong ekonomi dan perbankan syariah. Di antaranya yang pertama, melakukan top down oleh pemerintah, pemerintah daerah dan regulator.

Contohnya pemindahan dana haji, wajib menggunakan bank syariah milik pemerintah, penempatan dana-dana pemerintah serta BUMN di lembaga keuangan syariah. Konversi lembaga keuangan konvensional menjadi keuangan syariah, memudahkan persyaratan dan insentif pada lembaga keuangan syariah dan lainnya.

Kedua, bottom up dari sektor industri, lembaga fatwa atau lembaga pendidikan. Seperti mengadakan program studi ekonomi Islam atau keuangan syariah terapan di perguruan tinggi.

Mendorong kreativitas produk syariah, memperbesar promosi dalam lahirnya fatwa-fatwa produk syariah dan keuangan syariah. Serta sosialisasi syariah di berbagai majelis ilmu, masjid, pondok pesantren, target milenial, media sosial, dan lainnya.

“Potensi (perbankan syariah) yang dimiliki sangat baik, bukan hanya dari sisi kemunculan kelas menengah muslim secara pesat. Namun juga (pemenuhan) kebutuhan yang makin meningkat dalam meningkatkan eksistensi diri di dunia,” jelas Anggito. []

Tentang Penulis: Berita Bank

Gambar Gravatar
Berita harian bank terbaru, berita bank indonesia, berita terkini, berita perbankan, bank bjb, bank indonesia, berita bank mandiri, berita bank bri, berita bank syariah, berita bank terkini, berita bank bca, berita bank bjb hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *