Produksi Baja Krakatau Steel Bidik Goal Pertumbuhan 38 Persen

WARTABANK.COM, Jakarta – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menatap 2026 dengan optimisme tinggi seiring target peningkatan kinerja operasional. Manajemen memproyeksikan Produksi Baja Krakatau Steel mencapai 1,2–1,3 juta ton sepanjang tahun depan. Target tersebut melonjak signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang tercatat 936 ribu ton, atau tumbuh sekitar 38 persen secara tahunan.

Corporate Secretary Krakatau Steel, Fedaus, menyampaikan bahwa target tersebut bersumber dari optimalisasi kapasitas pabrik eksisting di Cilegon. Perusahaan mengarahkan penguatan proses produksi melalui efisiensi operasional, perbaikan rantai pasok, serta pemanfaatan teknologi manufaktur yang lebih modern.

“Kapasitas yang ada saat ini memungkinkan kami mendorong produksi hingga 1,3 juta ton pada 2026. Angka ini belum memasukkan tambahan kapasitas dari proyek pabrik slab baru bersama Danantara,” ujarnya.

Strategi Penguatan Produksi Baja Krakatau Steel

Dalam upaya memperkuat fondasi bisnis, Krakatau Steel menjalankan sejumlah inisiatif strategis. Salah satunya melalui kolaborasi dengan Danantara Asset Management (DAM) dalam proyek hilirisasi. Dua proyek prioritas mencakup pengolahan pasir besi untuk bahan baku slab serta pengembangan nikel untuk industri stainless steel.

Kedua proyek tersebut kini memasuki tahap feasibility study (FS) yang berlangsung selama dua bulan. Hasil kajian ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan investasi sekaligus perencanaan pembangunan fasilitas produksi baru.

Fedaus menegaskan bahwa proyek ini berperan penting dalam memperkuat struktur industri baja nasional. Kebutuhan baja dalam negeri meningkat sekitar 5–6 persen per tahun, dengan total konsumsi 2025 mencapai 18–19 juta ton, sementara produksi domestik baru menyentuh 14 juta ton. Ketimpangan ini masih membuka ruang impor yang cukup besar.

Melalui peningkatan kapasitas dan integrasi hulu-hilir, Krakatau Steel menargetkan pengurangan impor sekaligus peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Selain memperkuat ketahanan industri nasional, langkah ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi kebijakan, Danantara Indonesia turut melakukan intervensi strategis guna memperbaiki kinerja keuangan dan operasional Krakatau Steel. Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa sektor baja menjadi salah satu prioritas utama dalam agenda transformasi industri nasional.

Intervensi tersebut mencakup perbaikan struktur keuangan, efisiensi biaya produksi, hingga percepatan proyek ekspansi. Danantara juga menyiapkan pembangunan pabrik slab di Cilegon dengan kapasitas hingga 3 juta ton per tahun, tanpa melibatkan mitra asing.

Langkah agresif ini menandai fase baru transformasi Krakatau Steel menuju industri baja yang berdaya saing global. Dengan strategi terintegrasi, perseroan optimistis mampu menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri baja dunia. []