Laba BNI Tembus Rp16 Triliun, Kredit dan Pendapatan Bunga Jadi Penggerak Utama

WARTABANK.COM, Jakarta – Laba BNI kembali menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat laba bersih Rp16,11 triliun hingga September 2026.

Capaian tersebut meningkat 6,62% secara tahunan dan mempertegas ketahanan bisnis bank berkode saham BBNI di tengah dinamika ekonomi global.

Selain pertumbuhan keuntungan, BNI membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun.

Angka tersebut melonjak 11,6% secara tahunan dan menjadi pencapaian tertinggi BNI untuk periode sembilan bulan pertama.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa perusahaan terus mengutamakan penguatan fundamental, produktivitas, dan pengelolaan risiko.

Strategi tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham.

Laba BNI Menguat Berkat Ekspansi Kredit dan Digitalisasi

Kinerja positif BNI memperoleh dukungan dari penyaluran kredit yang meningkat 22,2% menjadi Rp992,5 triliun hingga akhir September 2026.

Pertumbuhan pembiayaan tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan memperluas aktivitas intermediasi perbankan sekaligus meningkatkan pangsa pasar kredit.

BNI mencatat pangsa pasar kredit mencapai 10,6%, meningkat 113 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi pendanaan, giro dan tabungan atau current account savings account (CASA) tumbuh 19,6% menjadi Rp733,7 triliun.

Penguatan dana murah membantu perusahaan menjaga efisiensi biaya pendanaan di tengah perubahan kondisi pasar.

Biaya dana BNI turun dari 2,83% menjadi 2,77%, sementara pendapatan bunga bersih meningkat 13,6% menjadi Rp33,2 triliun.

Selain itu, pendapatan berbasis komisi tumbuh 8,3% menjadi Rp13,9 triliun sepanjang Januari hingga September 2026.

Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun dari 2% menjadi 1,9%.

Rasio kredit berisiko atau loan at risk (LaR) juga membaik dari 10,4% menjadi 7,8%.

Di tengah pencapaian tersebut, margin bunga bersih BNI turun menjadi 3,5%. Kondisi ini mendorong perusahaan menjaga efisiensi dan disiplin pembiayaan.

Transformasi digital turut memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan layanan dan aktivitas transaksi nasabah.

Hingga September 2026, pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 16,6 juta atau meningkat 58% secara tahunan.

Nilai transaksi melalui aplikasi tersebut mencapai Rp1.774 triliun, tumbuh 25% dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, platform BNIdirect mencatat transaksi Rp9.324 triliun dengan jumlah pengguna mencapai 293.000.

Pertumbuhan layanan digital membuka peluang peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta penguatan hubungan dengan nasabah ritel dan korporasi.

Memasuki kuartal IV-2026, BNI terus memprioritaskan ekspansi kredit selektif, penguatan dana murah, dan transformasi jaringan layanan.

Melalui strategi tersebut, BNI optimistis mampu menjaga profitabilitas, memperkuat daya saing, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. []